Sabtu, 04 Juli 2015

PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA


A.    LATAR BELAKANG
Merokok adalah suatu pemandangan yang tidak asing lagi dikalangan remaja. Merokok menjadi suatu perilaku buruk pada diri remaja di indonesia. permasalahan perilaku mengkonsumsi rokok tidak saja terjadi pada kalangan remaja ataupun kalangan pelajar pada masyarakat kota saja, namun sehubungan dengan berbagai pengaruh dan perilaku remaja karena pergaulan, maka pemuda atau remaja bahkan pelajar di pedesaan saja juga telah banyak yang melakukan kegiatan merokok.  
Sejumlah studi menemukan penghisapan merokok pertama dimulai pada usia 11-13 tahun(Smet,1994). Studi Mirnet(Tuakli dkk, 1990) menemukan bahwa perilaku merokok diawalai rasa ingin tahu dan pengaruh teman sebaya. Modelling(menirukan orang lain) menjadi salahsatu determinan dalam memulai perilaku merokok(Sarafino, 1994).
Perilaku meroko pada remaja secara umum semakin lama semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan frekuensi dan intensitas merokok yang akhirnya menyebabkan para remaja mengalami ketergantungan nikotin(Laventhal dan Cleary dalam Mc Gee, 2005).
Perokok laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perokok perempuan. Jika diuraikan menurut umur, prevalensi perokok laki-laki paling tinggi pada umur 15-19 tahun. Remaja laki-laki pada umumnya mengkomsumsi lebih dari 20 batang/hari sebesar 5,6%. Yayasan kanker indonesia(YKI) menemukan 27,1% dari 1961 responden pelajar siswa SMA/SMK, sudah mulai atau terbiasa merokok pada umumnya siswa kelas satu menghisap satu sampai empat batang sehari, sementara itu siswa kelas tiga mengkomsusmsi rokok lebih dari sepuluh batang perhari(Sirait, dkk, 2001).
Penelitian di Amerika tahun 1998 menyatakan bahwa lebih dari 4 milliar remaja adalah perokok, dimana komsumsi rokok paling banyak adalah murid highschool(Siquera, dkk, 2001). Perilaku merokok pada remaja di negara berkembang prevalensinya juga semakin tinggi dibandingkan dengan negara-negar maju. Meningkatnya prevalensi merokok di negara-negara berkembang, termasuk di indonesia terutama dikalangan remaja menyebabkan persoalan rokok menjadi semakin serius(Tulakom & Bonet, 2003).
B.     PEMBAHASAN
Remaja adalah suatu tahapan dimana anak tersebut berumur sekitar 13-20 tahun, yang berada pada masa masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju tahap kedewasaan, remaja memiliki sifat yang labil dan sering berubah-ubah atau disebut juga masa puber. Anak remaja juga belum memiliki kematangan seksual baik secara rohani maupun jasmani.
Ciri-ciri anak dalam masa puber cenderung memamerkan dan menonjolkan diri kepada orang lain. Dari segi penampilan remaja cenderung cuek sesuai dengan apa yang dia mau, tetapi berbeda dengan anak laki-laki yang, anak perempuan lebih suka berhias dan bersolek diri agar mereka kelihatan menarik didepan orang lain.
Terlepas dari itu, remaja mengetahui tentang bahaya rokok walaupun tetap mengkomsumsinya. Banyak faktor yang menyebabkan remaja dalam usianya yang masih muda sudah merokok. Ada beberapa alasan yang dikemukan oleh para ahli faktor penyebab seseorang merokok. Menurut Levy(1984) setiap individu mempunyai kebiasaan merokok yang berbeda dan biasanya disesuaikan dengan tujuan merokok. Pendapat tersebut didukung oleh Smet(1994) yang menyatakan bahwa seseorang merokok karena faktor sosio cultural seperti kebiasan budaya, kelas sosial, gengsi dan tingkat pendidikan.
Erikson(Gathel, 1989) menyatakan remaja yang merokok karena adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya. Dalam masa remaja ini sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial. Upaya-upaya untuk untuk menemukan jati diri tersebut tidak semua berjalan dengan harapan masyarakat. Beberapa remaja melakukan perilaku merokok sebagai kompensatoris. Seperti yang dikatakan oleh oleh Brigham(1991) bahwa perilaku merokok bagi remaja merupakan simbolisasi. Simbol dari kematangan, kekuatan dan daya tarik terhadap lawan jenis.
Mu’tadin(2002) mengemukakan alasan mengapa remaja merokok, antara lain:
1.      Pengaruh orang tua
Menurut baer dan corado, remaja perokok adalah anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatiakan anak-anaknya dibandingkan dengan remaja yang berasal dari rumah tangga yang bahagia.
2.      Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya.
3.      Faktor kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena ingin tahu atau melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Satu sifat kepribadian yang bersifat pada pengguna obat-obatan(termasuk rokok) ialah konformitas sosial.
4.      Pengaruh iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan bahwa rokok adalah lambang kejantanan atau glamour. Hal tersebut membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.
Dari hasil penelitian disalah satu SMA di Pulau Jawa menyatakan perilaku merokok adalah karena adanya faktor dari luar. Faktor dari luar seperti faktor lingkungan bergaul di masyarakat, lingkungan di sekolah dan lingkungan keluarga. Pada mulanya siswa belum mengenal rokok dan belum merasakan bagaiamanakah rokok itu, akan tetapi karena pengaruh pergaulan di sekolah misalnya saat istirahat atau saat pulang sekolah, maka siswa yang belum terbiasa dengan rokok, lambat laun terpegaruhnya. Mula-mula remaja terarik dengan rokok dengan motivasi coba-coba dan adanya dorongan pengaruh teman sebaya atau teman sepergaulan untuk menunjukkan jati diri dan perilaku sosial sebagai remaja yang harus diakui oleh kelompoknya dan pergaulannya(Dwi Setiyanto, 2013). 
Pada Awalnya berniat untuk coba-coba dan menunjukkan jati diri remaja, maka lama kelamaan menjadi sebuah kebutuhan yang dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi perokok, tanpa menghiraukan dampaknya bagi diri dan lingkungannya. Para remaja beranggapan bahwa melalui rokok akan tampak gagah, jantan dan diperhitungkan oleh lingkungan dalam kelompoknya. Akan tetapi di sisi lain dapat menimbulkan dampak buruk bagi perokok sendiri maupun orang-orang disekitarnya.
Selain pengaruh dari luar siswa ada beberapa motivasi yang melatar belakangi mengapa harus ikut-ikutan merokok. Pada satu anggapan dari para pecandu rokok khususnya dilingkungan remaja siswa SMA Negeri 2 Karanganyar memiliki niat untuk disegani, kelihatan diakui dengan kawan bergaulnya, memiliki rasa percaya diri dan gentle. Lavental & Cleary (dalam Oskamp, 1984) menyatakan motif seseorang merokok terbagi menjadi dua motif utama, yaitu Faktor Psikologis dan Faktor biologis.
Ogden(2000) membagi dampak dari perilaku merokok menjadi dua, yaitu:
1.      Dampak positif
Merokok menimbulkan dampak positif yang sangat sedikit bagi kesehatan. Graham(dalam Ogden, 2000) menyatakan bahwa perokok menyebutkan dengan merokok dapat menghasilkan mood positif dan dapat membantu individu menghadapi keadaan sulit.
2.      Dampak positif
Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang sangat berpengaruh bagi kesehatan(Ogden, 2000). Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi dapat memicu suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak dapat menyebabkan kematian, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai penyakit dapat dipicu karena merokok dimulai dari penyakit dari kepala sampai dengan penyakit ditelapak kaki, antara lain adalah neoplasma(kanker), saluran pernafasan, peningkatan tekanan darah, penurunan vertilitas dan nafsu seksual, sakit mag, gondok dan gangguan pembuluh darah.

C.    KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perokok pada umumnya dimulai pada masa usia remaja (diatas 13 tahun). Ada beberapa faktor dan motif dari perokok, namun yang paling disebabkan oleh faktor psikologis dan juga dalam mengatasi stres, jumlah rokok yang dikonsumsi berkaitan dengan stres yang mereka miliki. Remaja yang merokok karena adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya. Dalam masa remaja ini sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Komasari, D.& Helmi, AF.(2000). Faktor faktor penyebab perilaku merokok pada remaja.jurnal psikologi universitas gadjah mada, 2 Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada Press.
Sirait, M.A.dkk(2001). Perilaku merokok di Indonesia. Jurnal fakultas kesehatan masyarakat. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Cahyani, B. 1995. Hubungan antara persepsi terhadap merokok dan kepercayaan diri dengan perilaku merokok pada siswa STM Muhammadiah pakem Sleman Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Suhariyono, A., 1993. Intensitas merokok dan kecenderungan memilih tipe strategi menghadapi masalah pada siswa SMTA di Yogyakarta, Skripsi. Yogyakarta Fakultas Psikologi UGM.
Aritonang, M.R.(1997). Fenomena wanita merokok. Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta:Universitas Gajah Mada Press.
Amelia, A. (2009). Gambaran perilaku merokok pada remaja laki-laki. Skripsi Medan: Fakultas
Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Nuradita dan Mariyam, 2013. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan tentang Bahaya Rokok pada Remaja di SMP Negeri 3 Kendal. Jurnal Keperawatan Anak, 1 (1):44-48.
Theodorus, 1994., Ciri perokok di kalangan Mahasiswa/i Universitas Sriwijaya. Jurnal JEN. No.3, 19-24.
Parrot,A.(2004). Does Cigarette Smoking Causa Stress? . Journal Of clinican Psychology.
Surani, S., Reddy, R., Houlihan, A. E., Parrish, B., Evans-Hundanall, G. L., and Guntupalli, K..
2011. Effect of Smoking : Baseline Knowledge among Schhool Children and Implementation
of the “AntE Tobacco” Project. International Journal of Pediatrics.




Sabtu, 20 Juni 2015

Contoh Rancangan Modifikasi Perilaku

MODIFIKASI PERILAKU
MEMPOSTING ARTIKEL DI BLOG

A.   ANALISIS FUNGSIONAL
1.    Kronologis Perilaku Muncul
Menulis adalah suatu kegiatan yang mengasah kemampuan seseorang dalam menyusun struktur kata dan juga menuangkan ide ide fikiran dalam bentuk tulisan. Blog atau yang biasa disebut Web Log merupakan sebuah catatan pribadi yang dimuat dalam sebuah posting dan disimpan dalam sebuah halaman web online dan biasanya bersifat terbuka bagi siapa saja yang mengunjungi dan membaca isi dari blog tersebut. isi di blog bisa bermacam macam sesuai dengan keinginan dari blogger(sebutan untuk penulis Blog) sendiri.
Perilaku ini muncul ketika subjek tidak ada kegiatan sehingga subjek tergerak untuk menulis artikel yang bermamfaat seperti tempat-tempat wisata, tips kesehatan dan lain untuk dipostingkan di blog. Subjek merasa perilaku sangat bermamfaat bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. subjek menjadi terlatih dalam menulis karena dengan kebiasaan perilakunya tersebut.
Subjek ingin durasi dan frekuensi perilaku memposting artikel di blog bisa bertambah. Nilai positif menjadi salah satu alasan subjek. Selain itu, artikel yang ditulis subjek kemudian dibagikan kepada orang lain akan mendapatkan mamfaat dengan membaca artikel dari subjek.

2.    Tabel ABC 
Antecedent
behavioral
Consequence
Subjek tergerak untuk menulis artikel yang bermamfaat bagi orang lain
Subjek memposting artikel di blog
Subjek merasa senang dan puas karena bisa saling berbagi informasi yang ditulisnya di blog

B.   BASE LINE
1.    Tabel Frekuensi, Durasi, Intensitas
No.
Hari
Frekuensi
Durasi
Intensitas
1
Senin, 18 Mei 2015
2x
12.00-13.10
19.30-21.00
Total : 2 jam 40 menit
Sedang
2
Selasa
3x
09.00-10.30
16.15-17.30
22.30-23.15
Total : 3 jam 30 menit
Sedang
3
Rabu
2x
12.33.13.40
22.00-23.10
Total : 2 Jam 43 Menit
Rendah
4
Kamis
1x
20.15-21.50
Total : 1 Jam 35 Menit
Rendah
5
Jumat
2x
14.30-15.50
23.13-01.20
Total : 3 jam 28 menit
Sedang
6
Sabtu
4x
08.15-11.00
12.40-14.30
16.10-17.00
19.05-20.30
Total : 6 jam 50 menit
Tinggi
7
Minggu
3x
07.45-09.30
12.20-14.20
15.00-16.15
Total : 4 jam 50 menit
Sedang

Keterangan :
Rendah : 1
Sedang  : 2
Tinggi   : 3
2.    Grafik Frekuensi,  Durasi Dan Intensitas

C.   TUJUAN MODIFIKASI PERILAKU
Tujuan dari modifikasi perilaku ini adalah untuk meningkatkan frekuensi menulis dan mempostng artikel yang bermamfaat. Selain itu, akan melatih kemampuan subjek dalam menulis yang sangat bermamfaat dalam proses belajar subjek sebagai mahasiswa.

D.   CHAINING
SD1  :melihat Laptop                              R1 :keinginan ambil laptop       
SD2 :mengambil laptop                                    R2 : menghidupkan laptop
SD3 : laptop startup                                R3 : menunggu startup selesai
SD4 : membuka Microsoft Word                            R4 : menulis Artikel
SD5 : menyambungkan ke Wifi                           R5 : Login akun Blog
SD6 :Memposting artikel                                     R6 : artikel terpublish

E.   TEKNIK MODIFIKASI PERILAKU
Adapun teknik modifikasi yang digunakan adalah Token Ekonomi. Penilaiannya dilakukan dengan ptemberian satu(1) bintang jika subjek berhasil menambah Frekuensi perilakunya diatas 3 kali sehari dan menambah durasi perilakunya diatas 3 jam setiap harinya selama 1 minggu. Bila subjek berhasil mengumpulkan 7 bintang maka subjek akan mendapatkan rewards akan dibiayai tour wisata ke pulau breueh. Jika subjek tidak berhasil maka reward tidak diberikan dan subjek akan diberikan punishment berupa menulis artikel 2000 kata kemudian mempostingkan di blog.

F.   RANCANGAN PELAKSANAAN MODIFIKASI PERILAKU

No.
Waktu
Kegiatan
Keterangan
1.
Sabtu, 30Mei 2015
Wawancara
Subjek menceritakan kronologis perilakunya.

2.
Senin, 31 Mei Mei 2015
Membuat kontrak modifikasi perilaku.
Subjek menyetujui kontrak modifikasi perilaku.

3.
Selasa, 1 Juni  2015
Memulai modifikasi perilaku
Teman Subjek mengobservasi dan meminta hasil self-monitoring dari subjek.
4.
Senin,8 Juni 2015
Evaluasi perilaku
Teman mengevaluasi perilaku subjek secara keseluruhan


Kamis, 11 Juni 2015

Analisa Jurnal Psikologi Lintas Budaya


ANALISA JURNAL PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA 
   





logo_unsyiah_fromacehdesain1
 


















Disusun oleh :
Nama : Isvani
Nim : 1207101130063





  PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2014

Judul jurnal         : hubungan harga diri dan psychological well-being pada wanita lajang
                                 ditinjau   dari bidang pekerjaan
Penulis                  : Susanti
Tahun                    : 2012
Volume dan No    : 01, 01
Penerbit                : Univesitas Surabaya
Analisis              : hasil penelitiannya menunjukkan bahwa semakin tinggi harga diri semakin tinggi well-being, dan sebaliknya. Subjek yang bekerja dibidang akademik dan non akademik memiliki tingkat psychological well-being dan harga diri yang tinggi. Ini disebabkan dengan dukungan sosial yang merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesejejahteraan psikologis subjek. Di ketahui dengan banyaknya subjek yang tinggal bersama keluarga dan menganggap ibu sebagai orang yang paling berarti dan mudah diajak berdiskusi  ketika ada  masalah. Hal ini berarti adanya dukungan keluarga pada subjek yang melajang. Selain keluarga teman juga merupakan dukungan sosial dan hal ini sesuai dengan yang dikatakan Ryff dan Keyes(1995) yang menyebutkan dukungan sosial sebagai salah  satu faktor kesehateraan psikologis.
Hubungan yang baik dengan orang lain adalah salah satu aspek psychological well-being yang dikemukakan Ryff(dalam Riff dan Singer, 2008). Status sosial juga mempunyai hubungan yang erat dengan harga diri dan berkaitan dengan status ekonomi. Yang menyebabkan tidak sedikit wanita terjun ke dunia pekerjaan. Pada penelitian ini,bekerja menjadi salah satu alasan wanita menunda bahkan memutuskan untuk tidak menikah. Hal ini nampak dari harapan yang dimiliki, yaitu kebanyakan subjek menginginkan dapat sukses dalam bidang pekerjaan. Bekerja merupakan bagian dari aktualisasi diri yang dapat meningkatkan otonomi, yaitu menjadi pribadi yang mandiri(Ryffdan Singer, 2008). Dukungan sosial yang dimiliki dapat berpengaruh pada penerimaan diri subjek, terkait dengan status lajang yang dimiliki.
Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Marissa Risky Ananda. Penelitiannya menjelaskan perempuan yang bekerja akan memiliki self-esteem yang tinggi ketimbang dengan yang tidak bekerja. Walaupun penelitiannya berfokus pada ibu rumah tangga yang bekerja dan tidak bekerja. Wanita yang bekerja lebih merasa mendapatkan status sosial yang tinggi. Apalagi jika mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga dukungan sosial juga mempengatuhi wanita dalam kehidupannya. Bekerja merupakan bagian fundamental kehidupan bagi hampir semua orang dewasa, termasu wanita karena dengan bekerja akan mendapatkan penghasilan yang memberikan kepuasan. Wanita terutama yang sudah berkeluarga mampu mendapatkan penghasilan merupakan suatu pertanda bahwa dirinya adalah manusia produktif, manusia yang berguna dan tidak menjadi beban bagi orang lain. dengan demikian  kegiatan bekerja bagi wanita menimbulkan rasa percaya diri, harga diri dan rasa puas yang akan menjadi faktor kesejahteraan psikologis.
Mendapat pengahsilan bukan hanya merupakan kebutuhan ekonomi rumah tangga namun juga merupakan kebutuhan psikologis akan pengakuan dan penghargaan atas dirinya. Orang merasa berharga jika bisa mengatakan posisi dan pekerjaannya, apalagi penghasilan yang didapatkan ditambah dengan pandangan masyarakat saat ini jika penghasilan merupakan suatu hal yang dapat meningkatkan self esteem seseorang karena dengan penghasilan akan mandir dan tak bergantung pada orang lain.
Wanita yang memiliki self esteem yang tinggi adalah ketika ia merasa bangga atas prestasi yang telah dicapai, dapat menerima tantangan, dapat memikul bebab berat yang akan mendapatkan pengakuan dari orang lain sehingga dirinya merasa berharga.


DAFTAR PUSTAKA
Susanti. (2012). hubungan harga diri dan psychological well-being pada wanita
Ditinjau dari bidang pekerjaan. Jurnal ilmiah mahasiswa universitas surabaya. (1), 1-8

Marissa Risky Ananda.(2013). Self esteem antara ibu rumah tangga yang bekerja dengan
Yang tidak bekerja. Jurnal online psikologi,(1) 40-54