A.
LATAR BELAKANG
Merokok adalah suatu pemandangan yang tidak
asing lagi dikalangan remaja. Merokok menjadi suatu perilaku buruk pada diri
remaja di indonesia. permasalahan perilaku mengkonsumsi rokok tidak saja
terjadi pada kalangan remaja ataupun kalangan pelajar pada masyarakat kota
saja, namun sehubungan dengan berbagai pengaruh dan perilaku remaja karena
pergaulan, maka pemuda atau remaja bahkan pelajar di pedesaan saja juga telah
banyak yang melakukan kegiatan merokok.
Sejumlah studi menemukan penghisapan merokok
pertama dimulai pada usia 11-13 tahun(Smet,1994). Studi Mirnet(Tuakli dkk,
1990) menemukan bahwa perilaku merokok diawalai rasa ingin tahu dan pengaruh
teman sebaya. Modelling(menirukan orang lain) menjadi salahsatu determinan
dalam memulai perilaku merokok(Sarafino, 1994).
Perilaku meroko pada remaja secara umum
semakin lama semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang
ditandai dengan frekuensi dan intensitas merokok yang akhirnya menyebabkan para
remaja mengalami ketergantungan nikotin(Laventhal dan Cleary dalam Mc Gee,
2005).
Perokok laki-laki jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan perokok perempuan. Jika diuraikan menurut umur, prevalensi
perokok laki-laki paling tinggi pada umur 15-19 tahun. Remaja laki-laki pada
umumnya mengkomsumsi lebih dari 20 batang/hari sebesar 5,6%. Yayasan kanker
indonesia(YKI) menemukan 27,1% dari 1961 responden pelajar siswa SMA/SMK, sudah
mulai atau terbiasa merokok pada umumnya siswa kelas satu menghisap satu sampai
empat batang sehari, sementara itu siswa kelas tiga mengkomsusmsi rokok lebih
dari sepuluh batang perhari(Sirait, dkk, 2001).
Penelitian di Amerika tahun 1998 menyatakan
bahwa lebih dari 4 milliar remaja adalah perokok, dimana komsumsi rokok paling
banyak adalah murid highschool(Siquera, dkk, 2001). Perilaku merokok pada
remaja di negara berkembang prevalensinya juga semakin tinggi dibandingkan
dengan negara-negar maju. Meningkatnya prevalensi merokok di negara-negara
berkembang, termasuk di indonesia terutama dikalangan remaja menyebabkan
persoalan rokok menjadi semakin serius(Tulakom & Bonet, 2003).
B.
PEMBAHASAN
Remaja adalah suatu tahapan dimana anak
tersebut berumur sekitar 13-20 tahun, yang berada pada masa masa peralihan dari
masa kanak-kanak menuju tahap kedewasaan, remaja memiliki sifat yang labil dan
sering berubah-ubah atau disebut juga masa puber. Anak remaja juga belum
memiliki kematangan seksual baik secara rohani maupun jasmani.
Ciri-ciri anak dalam masa puber cenderung
memamerkan dan menonjolkan diri kepada orang lain. Dari segi penampilan remaja
cenderung cuek sesuai dengan apa yang dia mau, tetapi berbeda dengan anak
laki-laki yang, anak perempuan lebih suka berhias dan bersolek diri agar mereka
kelihatan menarik didepan orang lain.
Terlepas dari itu, remaja mengetahui tentang
bahaya rokok walaupun tetap mengkomsumsinya. Banyak faktor yang menyebabkan
remaja dalam usianya yang masih muda sudah merokok. Ada beberapa alasan yang
dikemukan oleh para ahli faktor penyebab seseorang merokok. Menurut Levy(1984)
setiap individu mempunyai kebiasaan merokok yang berbeda dan biasanya
disesuaikan dengan tujuan merokok. Pendapat tersebut didukung oleh Smet(1994)
yang menyatakan bahwa seseorang merokok karena faktor sosio cultural seperti
kebiasan budaya, kelas sosial, gengsi dan tingkat pendidikan.
Erikson(Gathel, 1989) menyatakan remaja yang
merokok karena adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya
yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya. Dalam masa remaja ini
sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara
perkembangan psikis dan sosial. Upaya-upaya untuk untuk menemukan jati diri
tersebut tidak semua berjalan dengan harapan masyarakat. Beberapa remaja
melakukan perilaku merokok sebagai kompensatoris. Seperti yang dikatakan oleh
oleh Brigham(1991) bahwa perilaku merokok bagi remaja merupakan simbolisasi.
Simbol dari kematangan, kekuatan dan daya tarik terhadap lawan jenis.
Mu’tadin(2002)
mengemukakan alasan mengapa remaja merokok, antara lain:
1. Pengaruh orang tua
Menurut baer dan corado, remaja perokok
adalah anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana
orang tua tidak begitu memperhatiakan anak-anaknya dibandingkan dengan remaja
yang berasal dari rumah tangga yang bahagia.
2. Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin
banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah
perokok juga dan demikian sebaliknya.
3. Faktor kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena ingin tahu
atau melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Satu sifat kepribadian yang
bersifat pada pengguna obat-obatan(termasuk rokok) ialah konformitas sosial.
4. Pengaruh iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik
yang menampilkan bahwa rokok adalah lambang kejantanan atau glamour. Hal
tersebut membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti
yang ada dalam iklan tersebut.
Dari hasil penelitian disalah satu SMA di
Pulau Jawa menyatakan perilaku merokok adalah karena adanya faktor dari luar.
Faktor dari luar seperti faktor lingkungan bergaul di masyarakat, lingkungan di
sekolah dan lingkungan keluarga. Pada mulanya siswa belum mengenal rokok dan
belum merasakan bagaiamanakah rokok itu, akan tetapi karena pengaruh pergaulan
di sekolah misalnya saat istirahat atau saat pulang sekolah, maka siswa yang
belum terbiasa dengan rokok, lambat laun terpegaruhnya. Mula-mula remaja
terarik dengan rokok dengan motivasi coba-coba dan adanya dorongan pengaruh
teman sebaya atau teman sepergaulan untuk menunjukkan jati diri dan perilaku
sosial sebagai remaja yang harus diakui oleh kelompoknya dan pergaulannya(Dwi
Setiyanto, 2013).
Pada Awalnya berniat untuk coba-coba dan menunjukkan
jati diri remaja, maka lama kelamaan menjadi sebuah kebutuhan yang dianggap
dapat memberikan kenikmatan bagi perokok, tanpa menghiraukan dampaknya bagi
diri dan lingkungannya. Para remaja beranggapan bahwa melalui rokok akan tampak
gagah, jantan dan diperhitungkan oleh lingkungan dalam kelompoknya. Akan tetapi
di sisi lain dapat menimbulkan dampak buruk bagi perokok sendiri maupun
orang-orang disekitarnya.
Selain pengaruh dari luar siswa ada beberapa
motivasi yang melatar belakangi mengapa harus ikut-ikutan merokok. Pada satu
anggapan dari para pecandu rokok khususnya dilingkungan remaja siswa SMA Negeri
2 Karanganyar memiliki niat untuk disegani, kelihatan diakui dengan kawan
bergaulnya, memiliki rasa percaya diri dan gentle. Lavental & Cleary (dalam Oskamp, 1984)
menyatakan motif seseorang merokok terbagi menjadi dua motif utama, yaitu
Faktor Psikologis dan Faktor biologis.
Ogden(2000)
membagi dampak dari perilaku merokok menjadi dua, yaitu:
1. Dampak positif
Merokok
menimbulkan dampak positif yang sangat sedikit bagi kesehatan. Graham(dalam
Ogden, 2000) menyatakan bahwa perokok menyebutkan dengan merokok dapat
menghasilkan mood positif dan dapat membantu individu menghadapi keadaan sulit.
2. Dampak positif
Merokok dapat
menimbulkan berbagai dampak negatif yang sangat berpengaruh bagi
kesehatan(Ogden, 2000). Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi dapat
memicu suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak dapat
menyebabkan kematian, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang
dapat mengakibatkan kematian. Berbagai penyakit dapat dipicu karena merokok
dimulai dari penyakit dari kepala sampai dengan penyakit ditelapak kaki, antara
lain adalah neoplasma(kanker), saluran pernafasan, peningkatan tekanan darah,
penurunan vertilitas dan nafsu seksual, sakit mag, gondok dan gangguan pembuluh
darah.
C. KESIMPULAN
Dari uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa perokok pada umumnya dimulai pada masa usia remaja
(diatas 13 tahun). Ada beberapa faktor dan motif dari perokok, namun yang paling
disebabkan oleh faktor psikologis dan juga dalam mengatasi stres, jumlah rokok
yang dikonsumsi berkaitan dengan stres yang mereka miliki. Remaja yang merokok karena adanya krisis
aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya yaitu masa ketika
mereka sedang mencari jati dirinya. Dalam masa remaja ini sering dilukiskan
sebagai masa badai dan topan karena ketidaksesuaian antara perkembangan psikis
dan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Komasari,
D.& Helmi, AF.(2000). Faktor faktor penyebab perilaku merokok pada remaja.jurnal psikologi universitas gadjah mada,
2 Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada Press.
Sirait,
M.A.dkk(2001). Perilaku merokok di Indonesia. Jurnal fakultas kesehatan masyarakat. Medan: Universitas Sumatera
Utara.
Cahyani,
B. 1995. Hubungan antara persepsi terhadap merokok dan kepercayaan diri dengan
perilaku merokok pada siswa STM Muhammadiah pakem Sleman Yogyakarta. Skripsi.
Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Suhariyono,
A., 1993. Intensitas merokok dan kecenderungan memilih tipe strategi menghadapi
masalah pada siswa SMTA di Yogyakarta, Skripsi. Yogyakarta Fakultas Psikologi
UGM.
Aritonang,
M.R.(1997). Fenomena wanita merokok. Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta:Universitas Gajah Mada Press.
Amelia,
A. (2009). Gambaran perilaku merokok pada remaja laki-laki. Skripsi Medan:
Fakultas
Psikologi
Universitas Sumatera Utara.
Nuradita
dan Mariyam, 2013. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan tentang Bahaya
Rokok pada Remaja di SMP Negeri 3 Kendal. Jurnal Keperawatan Anak, 1 (1):44-48.
Theodorus,
1994., Ciri perokok di kalangan Mahasiswa/i Universitas Sriwijaya. Jurnal JEN.
No.3, 19-24.
Parrot,A.(2004).
Does Cigarette Smoking Causa Stress? . Journal
Of clinican Psychology.
Surani,
S., Reddy, R., Houlihan, A. E., Parrish, B., Evans-Hundanall, G. L., and
Guntupalli, K..
2011.
Effect of Smoking : Baseline Knowledge among Schhool Children and
Implementation
of
the “AntE Tobacco” Project. International Journal of Pediatrics.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar